TULISAN BEKAS USTADZ MUKHTAR TENTANG PLB

RENUNGAN UNTUK IKHWAN LENDAH
( Edisi 17 )

Saya menyebutnya sebagai :
“IDE YANG CERDAS!”

Ide semacam itu mungkin sudah lahir jauh waktu sebelumnya. Saya bahkan yakin bila ide tersebut sudah pernah dicanangkan dan bisa jadi telah dijalankan di tempat lain. Tapi apapun itu keadaannya, yang pasti inovasi-inovasi semacam ini memang perlu sekali untuk dimunculkan.

Dan kini, ide cerdas itu telah direalisasikan juga oleh saudara-saudara kita dan saya sendiri telah menyaksikan benar-benar nyata manfaatnya. Kapan? Ahad kemarin, pada saat saya diminta oleh ikhwan-ikhwan Cikarang untuk menyampaikan materi di masjid Baitul Makmur, Perumahan Telaga Sakinah, Cikarang Barat. Sungguh ketika bisa melihat secara langsung bagaimana ide cerdas itu diwujudkan, kiranya cukup untuk menghapuskan rasa lelah yang ada ketika perjalanan Lendah-Cikarang.

Ide cerdas macam bagaimana pula ini?
Ide itu dinamakan oleh ikhwan-ikhwan Cikarang dengan PLB, singkatan dari Pengelolaan Limbah Bermanfaat. Barangkali jika berta’awun dalam bentuk uang, sebagian ikhwan masih tersisa rasa berat dihati. Namun bila sekedar barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai dirumah, tentu akan jauh lebih ringan untuk disumbangkan.

Mereka dan juga kita, sebenarnya sama-sama sepakat bahwa untuk menggerakkan roda dakwah ini tentunya memerlukan biaya. Operasional dakwah harus ditopang dengan finansial. Seandainya, katakanlah kita ingin merasa cukup dengan kondisi yang sederhana dan biasa-biasa saja. Ya tetap saja sesederhana apapun dan sebiasa bagaimanapun juga memerlukan biaya?

Faktanya, kita masih jauh untuk mencapai tingkatan Abu Bakar As Shidiq Radhiyallohu’anhu yang siap menyerahkan semua hartanya di jalan Allah. Kita juga belum bisa menggapai derajat sebagaimana Utsman bin Affan Radhiyallohu’anhu yang ketika tengah mempersiapkan armada dagang berupa dua ratus ekor unta lengkap dengan barang dagangan di setiap punuknya, kemudian saat mendengar seruan Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam untuk berjuang di jalan Allah, Utsman sertamerta mengatakan : “Semua armada dagang ini saya berikan untuk berjuang di jalan Allah”.

Kita belum sampai kesana. Namun bukankah kita harus mulai belajar dan berlatih? Belajar menjadikan dakwah sebagai prioritas hidup. Berlatih untuk memposisikan dakwah sebagai cita-cita terbesar kita. Kalaupun belum bisa seperti Abu Bakar atau Utsman, paling tidak kita telah bisa melaksanakan perintah Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam : ”Lindungilan dirimu dari siksa neraka, walaupun dengan secuil kurma!”

Kepekaan dan sensitifitas terhadap perjalanan dakwah harus mulai dibangun sebaik-baiknya. Usahlah berpikir : “Paling-paling sudah ada yang menanggung” , ”Masih banyak yang siap membiayai”, atau janganlah kita berpikir bahwa “Segala sesuatunya serba gratis”. Masya Allah saudaraku, harta yang kita peroleh selama ini sebenarnya hanyalah titipan dari Allah Subhanahuwata’ala. Maka pergunakanlah harta itu sesuai dengan kehendak Dzat yang menitipkan.
Lalu, apa yang sudah kita perbuat untuk dakwah dengan harta kita?

Ooooo_____ooooO

PLB adalah kependekan dari Pengelolaan Limbah Bermanfaat. Program ini mulai digulirkan pada 01 Jumadil Awwal 1437 H, yang bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2016. Ikhwan-ikhwan Cikarang memilih langkah ini sebagai kreatifitas usaha demi mewujudkan cita-cita agung yang diungkapkan dalam motto PLB, yaitu :

“Selamatkan Anak-Anak Kaum Muslimin Dari Paham-Paham Menyimpang : Radikalisme, Terorisme dan Komunisme”.

Sayapun berdiri mematung. Termangu memandang banner yang terpampang di lokasi pengumpulan barang-barang bekas. Letaknya berada di pinggiran rel kereta api jurusan Jakarta-Jogjakarta. Lokasi itu menggunakan lahan milik perumahan, bersebelahan dengan area bermain anak-anak Salafiyyin. Sebuah rumah kontrakan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak tepat berada didepan lokasi PLB.

Saya berusaha keras untuk menghubung-hubungkan antara pengolahan barang bekas dengan motto PLB. Apa hubungannya sampah dan barang bekas dengan upaya menyelamatkan anak-anak kaum muslimin dari paham radikalisme, terorisme dan komunisme?

Ternyata ikhwan-ikhwan Cikarang saat ini mempunyai cita-cita besar untuk bisa mandiri. Memiliki tanah dan bangunan sendiri. Tidak mengontrak, bukan sekedar sewa.
Tanah dan bangunan, yang nantinya akan digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak kaum muslimin. Harapannya supaya sejak dini anak-anak kaum muslimin telah terbentengi dari paham sesat, dengan mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih.

Tetapi, darimana biaya untuk mewujudkan semua impian itu? Maka mereka mempunyai gagasan untuk mengumpulkan dan mengolah barang-barang bekas. Plastik, kayu, besi dan perabot rumah tangga yang sudah tidak terpakai dikumpulkan di area PLB. Ada kulkas rusak, komputer rusak, sepeda rusak, AC rusak bahkan ada juga becak rusak. Walaupun becak rusak itu kemudian diperbaiki untuk dijadikan armada PLB.

Setiap  hari Sabtu dan Ahad, atas kesadaran sendiri-sendiri, tiap-tiap ikhwan membawa barang-barang bekas itu untuk dikumpulkan di basecamp PLB. Disediakan juga layanan jemput bola. Sebuah mobil colt terbuka dipinjamkan oleh pemiliknya untuk mendukung layanan jemput barang-barang bekas.

Kini, PLB telah berjalan selama sekitar dua bulan. Hasilnya? Wow……. cukup fantastis. Enam juta rupiah! Enam juta rupiah telah terkumpul melalui program PLB.

Sampai kapan kegiatan seperti ini harus dilaksanakan? Estimasi mereka, untuk membeli tanah serta bangunan di atasnya dengan luas 84 m² dibutuhkan biaya sekitar 400 juta rupiah. Jika ditargetkan setiap bulan mempunyai pemasukan satu juta rupiah, maka diperlukan waktu selama 400 bulan. Setara dengan 33 tahun lebih empat bulan. Maka paling tidak 33 tahun yang akan datang, tanah dan rumah dambaan yang akan digunakan sebagai tempat pendidikan akan dimiliki, Insya Allah.
Mudah-mudahan Alloh Subhanahuwata’ala memberkahi jerih payah mereka.

Bisakah anda membayangkan betapa lamanya perjuangan itu? Koordinator PLB pernah mengirim pesan broadcast dikomunitas ikhwan-ikhwan Salafy Cikarang :

”Sudahlah! Tidak usah dipikirkan. Bekerja saja. Nanti biar Allah yang akan mewujudkan!”.

He…he… jadi teringat dengan kita yang di Lendah. Bagaimana jika pengumpulan dana nanti terkadang diberikan bukan dalam bentuk uang. Masing-masing mengumpulkan beras sekilo atau dua kilo kemudian dijual dan diubah dalam bentuk uang. Karena, banyak dari kita yang berprofesi sebagai petani.

Saudaramu di jalan Allah

Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Lendah, 12 April 2016

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
http://tlgrm.me/kajianislamlendah
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Dipublikasikan oleh ⤵
___________________________
almuwahhidiin.salafymedia.com
📚 طالب العلم جيكارنج

Pada,  Rabu 05 Rajab 1437H/13 April 2016M Jam 03.41 Wib

image

image

admin